Categories
Parenting

Kondisi Sehat Dan Bugar Diperlukan Mamil Bag2

Untuk mamil, intensitas latihan disarankan berkisar antara 50?70% dari denyut jantung maksimal. Contoh, usia Mama 30 tahun, maka denyut jantung maksimalnya adalah 220 dikurangi 30 = 190 denyut per menit. Setelah berolahraga, denyut jantung tidak boleh melebihi 50?70%-nya atau sekitar 95-133 denyut per menit. Denyut jantung yang terlalu cepat menandakan kita berolahraga terlalu berat.

Baca juga : kursus bahasa Jerman di Jakarta

Jika denyut jantung Mama terlalu cepat, denyut jantung janin pun akan meningkat dan ikut menaikkan suhu tubuhnya. Hal ini dapat membahayakan Mama dan janin. Sebaliknya, jika denyut jantung terlalu rendah, tujuan olahraga untuk kesehatan dan kebugaran juga tidak tercapai. Nah, bagaimana cara mengukur denyut jantung? Cukup tempelkan jari telunjuk dan jari tengah kita pada perge langan tangan bagian dalam atau di rahang bawah dekat leher, kemudian hitung denyut annya selama satu menit atau selama 30 detik dikalikan dua.

SETOP OLAHRAGA JIKA…

Jika Mama merasakan keluhan nyeri, sesak napas, sakit kepala, bahkan terasa mau pingsan saat berolahraga, mama harus segera menghentikan latihan dan mencari pertolongan dokter. Begitu pula jika setelah berolahraga timbul fl ek darah atau keluar cairan yang bukan air seni dari vagina. Perhatikan pula pergerakan janin. Jika janin menjadi malas bergerak setelah Mama berolahraga, segera hubungi dokter obgin.

DETEKSIDOWN’S SYNDROMELEWAT TES DARAH Pemeriksaan darah pada minggu ke-10 hingga 14 kehamilan akan lebih efektif dalam mendiagnosis adanya risiko Down’s syndrome serta dua jenis kelainan kromosom lainnya, dibandingkan dengan teknik skrining standar yang sifatnya noninvasif. Ini kesimpulan dari studi yang dimuat di New England Journal of Medicine. Pemeriksaan ini berfokus pada sebagian DNA janin yang ditemukan di dalam darah mamil.

Menurut Mary Norton, MD, profesor di bidang Obstetri dan Ginekologi Klinik dari University of California, San Francisco, penggunaan tes DNA ini dapat memberi hasil lebih akurat untuk risiko Down’s syndrome, sekaligus menurunkan jumlah pemeriksaan invasif yang dilakukan, serta risiko keguguran yang menyertai pemeriksaan ini. “Namun, mamil juga perlu tahu, meski sangat akurat untuk menemukan risiko Down’s syndrome, pemeriksaan ini tidak dapat memberikan hasil yang menyeluruh seperti jenis pemeriksaan lain,” tambah Dr. Norton.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *